Mengapa kita memilih jenis kelamin anak?
Sunday, January 11th, 2009 | Posted in Categories : Renungan | 1,065 Views
Buku ini oleh penerbitnya diklaim sudah terjual lebih dari 2 juta kopi.Teknik yang ditawarkan oleh Shettles lebih banyak kepada pengenalan akan perubahan dan tanda-tanda pada saat menstruasi seperti perubahan lendir leher rahim (cervical mucus).Namun, saya kembali pada pertanyaan dasar yaitu: haruskah kita memilih jenis kelamin anak? Dan untuk apa?Tidakkah akan terjadi gendercide, sehingga akan sangat sedikit jenis kelamin tertentu. Misalnya untuk masyarakat Bali yang “mewajibkan” memiliki anak lelaki akan menciptakan sebuah demografi penduduk yang lebih banyak lelakinya dari pada perempuan.Mengapa kita tidak membiarkan saja alam mengatur seperti iramanya.Saya sering bertemu dengan permintaan pasangan akan jenis kelamin tertentu. Kebanyakan menginginkan anak laki-laki.Haruskah kita memilih ?Buku ini memberikan pedoman praktis. Walau saya masih belum terlalu yakin dengan klaim keberhasilannya. Dan jika benar buku ini bestseller, ini membuktikan bahwa masih sangat banyak orang memilih jenis kelamin untuk anaknya.







































Related Articles
6 users responded in this post
Iya, Dok…
Masih ada pembedaan - gitulah bahasanya.
Tak mau menerima apa adanya.
Padahal lebih baik acak saja.
dok,
saya belum menikah, jadi blum terpikir sejauh dan sedetail itu untuk memilih jenis kelamin anak. *lha nikah aja belum*
Tapi dok,
Kadang-kadang, bahkan pernah saya detailkan, tentang harapan memilik seorang keturunan jenis kelami tertentu (laki-laki misalnya), yang dalam bayangan saya itu akan saya “program” dan saya didik sedemikian rupa sesuai impian saya tentang seorang anak, yang tentu saja berdasarkan pengalaman hidup saya sendiri.
Saya yakin, banyak juga yang begini, dan ini pula yang menjadi alasan dan harapan pasangan berkeluarga yang menginginkan jenis kelamin tertentu itu.
Di kemudian hari, jauh setelah saya membayangkan hal-hal itu, saya tertawa sendiri. Kenapa saya harus memprogram anak? Bukankah saya sendiri ga suka di program orang? Ga suka diarahkan dan sangat ingin menjadi karakter merdeka? Tentu sang anak juga sangat bahagia jika demikian.
Jadi kemudian, saya berfikir..kenapa juga milih milih? Seolah-olah kita berburuk sangka pada pencipta dan menilai negatif anugerahnya. Bersyukur rasanya jauh lebih baik.
kepanjangan ga dok?
Salam kenal dok
Saya “bersahabat” dengan alam saja dok.
Biar alam sendiri yang mengatur iramanya
dok, selama ‘tuntutan’ jenis kelamin membudaya, sptnya masi bakal laku buku2 sejenis..
kl ngga percaya, cb dokter hari jg bikin
padahal teorinya masi itu2 aja ya..cmiiw kl ada teori baru
keep blogging
Terimakasih atas komentar-komentar dan pandangannya. Salam kenal untuk semuanya.Secara filosofis sebenarnya probabilitas jenis kelamin berdasarkan alamiah selalu mendekati angka 50%-50% baik antara anak laki-laki dan perempuan. Spermatozoa X dan Y memiliki perbedaan dan mereka saling melengkapi.Banyak teori mencoba membantu menjawab keinginan memilih jenis kelamin namun keberhasilannya masih berkisar deviasi 50% saja. Saya percaya “nature can not do mistake”. Hanya kita sering tidak tahu dan gagal memahami apa yang alam berikan.
Salam.
dok..sy ingin dokter membuat buku ttg pandangan pemilihan anak laki2 atau perempuan dgn menggabungkan medis dan spiritual…trims dok..bravo for your website..
Leave A Comment
Please Note: Comment moderation maybe active so there is no need to resubmit your comments