<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.3.1" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>Hariyasa Sanjaya Website Blog &#124; Spesialis Kebidanan &#38; Kandungan (Obstetrician &#38; Gynecologist)</title>
	<link>http://www.hariyasasanjaya.com</link>
	<description>Hariyasa Sanjaya Website Blog &#124; Spesialis Kebidanan &#38; Kandungan (Obstetrician &#38; Gynecologist)</description>
	<pubDate>Sun, 20 Sep 2009 06:02:54 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Perawatan Antenatal Berbagi</title>
		<link>http://www.hariyasasanjaya.com/perawatan-antenatal-berbagi/</link>
		<comments>http://www.hariyasasanjaya.com/perawatan-antenatal-berbagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2009 05:38:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hariyasasanjaya.com/perawatan-antenatal-berbagi/</guid>
		<description><![CDATA[bu-mil.jpg
Sebuah berita menarik  berjudul “Kesehatan Gratis di 114 Puskesmas” tentang Jamkes Bali Mandara di Koran Mingguan TOKOH 6-12 September 2009 merupakan sebuah berita tentang program Pemerintah Propinsi Bali dalam upaya meningkatkan tingkat indeks pembangunan masyarakat terutama meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Bali.  Langkah strategis dan  penting ini  memiliki makna antara lain Pemerintah Propinsi Bali menekankan kembali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left; margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%" align="center" class="MsoNormal"><span style="font-family: 'Times New Roman'; font-weight: bold" class="Apple-style-span"><span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal; line-height: 20px; font-family: Georgia"><a href="http://www.hariyasasanjaya.com/wp-content/uploads/2009/09/bu-mil.jpg" title="bu-mil.jpg"><img src="http://www.hariyasasanjaya.com/wp-content/uploads/2009/09/bu-mil.jpg" alt="bu-mil.jpg" /></a><a href="http://www.hariyasasanjaya.com/wp-content/uploads/2009/09/bu-mil.jpg" title="bu-mil.jpg">bu-mil.jpg</a></span></span></p>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%" align="center" class="MsoNormal"><span style="font-family: 'Times New Roman'" class="Apple-style-span"><span class="Apple-style-span" style="line-height: 20px; font-family: Georgia"><a href="http://www.hariyasasanjaya.com/wp-content/uploads/2009/09/bu-mil.jpg" title="bu-mil.jpg"><span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px"><strong>Sebuah berita menarik  berjudul “Kesehatan Gratis di 114 Puskesmas” tentang Jamkes Bali Mandara di Koran Mingguan TOKOH 6-12 September 2009 merupakan sebuah berita tentang program Pemerintah Propinsi Bali dalam upaya meningkatkan tingkat indeks pembangunan masyarakat terutama meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Bali.  Langkah strategis dan  penting ini  memiliki makna antara lain Pemerintah Propinsi Bali menekankan kembali  pentingnya kesehatan masyarakat sebagai faktor penting yang mendasar dari kesejahteraan masyarakat serta akan tercipta suatu sistem pembiayaan dalam pelayanan kesehatan yang merealisasi semangat untuk mewujudkan keadilan sosial bagi masyarakat.</strong></span></a></span></span></p>
<p style="text-align: left; line-height: 150%" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif"><strong>Dan konsekuensi dari program Pemerintah Propinsi Bali ini menuntut peningkatan kualitas pelayanan puskesmas yang akan terlibat di dalamnya. Salah satu pelayanan kesehatan di puskesmas yang menjadi prioritas adalah pelayanan kesehatan ibu dan anak. Kegiatan rutin dalam pelayanan ini adalah perawatan antenatal bagi ibu hamil.  Sangat erat kaitannya hubungan antara kualitas pelayanan antenatal dalam meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang diukur dengan angka kematian ibu hamil dan melahirkan dan angka kematian bayi baru lahir.</strong><strong><o:p></o:p></strong></span></p>
<p style="text-align: left; line-height: 150%" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif"><strong>  </strong><strong><o:p></o:p></strong></span></p>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif"><strong>Perawatan antenatal dilaksanakan untuk melakukan penapisan terhadap kondisi kesehatan ibu hamil dimana faktor sosio-ekonomi sangat berpengaruh terhadap kualitas luaran kehamilan. Perawatan antenatal juga dapat digunakan untuk mengetahui efektifitas pelayanan, serta memberikan pendidikan bagi para ibu hamil tentang bagaimana merencanakan persalinan yang aman, dan memberikan pengetahuan tentang keadaan-keadaan  darurat selama kehamilan serta mengetahui bagaimana cara mengatasi masalah-masalah tersebut.</strong><sup><strong><o:p></o:p></strong></sup></span></p>
<p style="text-align: left; line-height: 150%" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif"><o:p><strong> </strong></o:p></span></p>
<p style="text-align: left; line-height: 150%" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif"><strong>Program perawatan antenatal  di Indonesia masih menghadapi berbagai masalah baik dalam cakupan serta kualitas. Soal koordinasi dan integrasi serta team work dalam pelayanan antenatal  masih menjadi masalah yang utama. Berkurangnya peran dokter umum (dokter pemberi pelayanan primer) dalam perawatan antenatal  merupakan sesuatu yang mengkhawatirkan. Koordinasi serta sinergisme yang kurang kuat antara pemberi pelayanan perawatan antenatal yaitu bidan dan dokter spesialis kebidanan dan kandungan. Tidak standarnya pedoman atau acuan dalam pelaksanaan perawatan antenatal juga merupakan masalah penting lainnya.</strong><strong><o:p></o:p></strong></span></p>
<p style="text-align: left; line-height: 150%" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif"><strong>Pada tulisan ini penulis ingin mengutip suatu model perawatan antenatal berbagi</strong><em><strong> </strong></em><strong> di tempat lain. Kata ‘berbagi’ sangat indah terbaca dan mengandung makna kebersamaan dalam suatu tanggung jawab untuk memberikan pelayanan bagi ibu hamil. Dalam pelayanan antenatal berbagi ini peran dokter umum, bidan dan dokter spesialis kebidanan dan kandungan diatur secara jelas dengan jadwal, tujuan pemeriksaan dan hal-hal penting yang harus disampaikan kepada ibu hamil. </strong><strong><o:p></o:p></strong></span></p>
<p style="text-align: left; line-height: 150%" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif"><strong>Perawatan antenatal berbagi (PAB) ditujukan untuk ibu hamil yang kesehatannya baik dengan kehamilan tunggal tanpa komplikasi (kategori A, kehamilan risiko rendah). </strong><strong><o:p></o:p></strong></span></p>
<p style="text-align: left; line-height: 150%" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif"><strong>Sedangkan untuk kategori B (kehamilan dengan risiko sedang) dan C (kehamilan dengan risiko tinggi) memerlukan perawatan khusus dari dokter spesialis kebidanan dan kandungan atau spesialis yang lain. </strong><strong><o:p></o:p></strong></span></p>
<p style="text-align: left; line-height: 150%" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif; color: black"><strong>Ketegori A faktor-faktor risiko rendah, dapat dikelola dalam perawatan berbagi</strong><em><strong> </strong></em><strong>oleh dokter umum. </strong><strong><o:p></o:p></strong></span></p>
<p style="text-align: left; line-height: 150%" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif; color: black"><strong>Sedangkan kriteria kehamilan dengan kategori B (dengan faktor-faktor risiko sedang) contohnya: kehamilan kembar, kadar Hemoglobin ibu &lt; 10 gram/dl, usia ibu kurang dari 15 tahun  dan lebih dari 35 tahun, adanya infeksi aktif seperti: syphilis, positif HIV, tuberculosis, dan positif virus Hepatitis B, riwayat persalinan sebelumnya dengan seksio sesarea</strong><strong><o:p></o:p></strong></span></p>
<p style="text-align: left; line-height: 150%" class="MsoNormal"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif; color: black"><strong>Kehamilan dengan kategori C (risiko tinggi)  </strong></span><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif; color: black"><strong>yaitu dengan kelainan medis seperti: penyakit ginjal, penyakit jantung berat, asthma berat, kelainan endokrin,  penyakit hati,kelainan darah</strong><em><strong> </strong></em><strong>kelainan saraf seperti epilepsi dan kelainan kelenjar thyroid berat. Serta hipertensi dalam kehamilan termasuk pre-eclampsi dan penyakit infeksi seperti HIV.</strong></span><span style="font-family: 'Times New Roman', serif; color: black"><strong><o:p></o:p></strong></span></p>
<p style="text-align: left; line-height: 150%" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif"><o:p><strong> </strong></o:p></span></p>
<p style="text-align: left; line-height: 150%" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif"><o:p><strong> </strong></o:p></span></p>
<p style="text-align: left; line-height: 150%" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif"><strong>Jadwal kunjungan</strong><strong><o:p></o:p></strong></span></p>
<p style="text-align: left; line-height: 150%" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif"><strong>Jadwal kunjungan untuk perawatan antenatal berbagi telah ditentukan saat pertama kali kunjungan ibu hamil. Jadwal kunjungan ini dibagi antara dokter umum dan dokter spesialis. Dapat pula berbagi antara bidan, dokter umum dan dokter obgyn. Setidaknya ada 3 kali jadwal untuk dokter spesialis kebidanan dan kandungan yaitu saat pemeriksaan USG untuk menentukan kepastian kehamilan, usia kehamilan, lokasi kehamilan dan penentuan tanggal tafsiran persalinan. Kemudian kunjungan kedua saat usia kehamilan 18 – 20 minggu dengan tujuan untuk melakukan pemeriksaan usg untuk mengevaluasi anatomi janin secara keseluruhan yang disebut dengan morphologic scan. Dan kunjungan yang ketiga saat usia kehamilan 32-34 minggu untuk mengevaluasi pertumbuhan janin.  Dan jika umur kehamilan telah melewati tanggal tafsiran persalinan diperlukan kunjungan ke dokter kebidanan dan kandungan untuk mengevaluasi kesejahteraan janinnya.</strong><strong><o:p></o:p></strong></span></p>
<p style="text-align: left; line-height: 150%" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif"><strong>Dengan jadwal kunjungan perawatan antenatal berbagi ini diharapkan tidak terjadi kegagalan dalam penapisan/skrining baik kesalahan dalam penentuan usia kehamilan dan ketepatan penentuan tafsiran persalinan, skrining kelainan bawaan, gangguan pertumbuhan janin. Dan pemeriksaan usg menjadi tepat sasaran dan tepat waktu.</strong><strong><o:p></o:p></strong></span></p>
<p style="text-align: left; line-height: 150%" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif"><strong>Pada pelayanan antenatal berbagi diperlukan peningkatan kompetensi baik bidan maupun dokter umum. Karena pada mereka kunjungan perawatan antenatal lebih banyak diberikan. </strong><strong><o:p></o:p></strong></span></p>
<p style="text-align: left; line-height: 150%" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif"><strong>Di Australia dan United Kingdom dikenal dengan program diploma obstetri selama 6 bulan bagi dokter umum yang tertarik untuk menekuni pelayanan antenatal berbagi. Program ini mungkin dapat diadopsi di Indonesia (khususnya di Bali) mengingat jumlah penduduk Indonesia yang begitu besar dan menyebar dimana ketersediaan dokter spesialis kebidanan dan kandungan  masih kurang, maka pemberdayaan dokter umum dalam pelayanan kebidanan sangatlah diperlukan. Sehingga tidak lagi terjadi marginalisasi peran dokter umum dalam pelayanan kebidanan terutama pelayanan antenatal.</strong><strong><o:p></o:p></strong></span></p>
<p style="text-align: left; line-height: 150%" class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif"><strong>Pelayanan antenatal berbagi bisa menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan antenatal di puskesmas yang akan berperan penting dalam mencapai keberhasilan program Jamkes Bali Mandara. </strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hariyasasanjaya.com/perawatan-antenatal-berbagi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Puja Gayatri</title>
		<link>http://www.hariyasasanjaya.com/puja-gayatri/</link>
		<comments>http://www.hariyasasanjaya.com/puja-gayatri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 23:08:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[My Family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hariyasasanjaya.com/puja-gayatri/</guid>
		<description><![CDATA[Puja&#8230;.adalah anak kedua saya. Lahir 4 Maret 2009, 16.20 wita. Kehadirannya adalah anugrah yg terindah bagi kami semua.Kemarin Ni Luh Made Puja Gayatri yang  dipanggil AyA melaksanakan prosesi ritual tiga bulanan.Semoga AyA tumbuh dan berkembang dengan baik dan selalu ditemani kebahagiaan dan kedamaian.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.hariyasasanjaya.com/wp-content/uploads/2009/06/img_0330.jpg" title="AyA"><img src="http://www.hariyasasanjaya.com/wp-content/uploads/2009/06/img_0330.jpg" alt="AyA" /></a>Puja&#8230;.adalah anak kedua saya. Lahir 4 Maret 2009, 16.20 wita. Kehadirannya adalah anugrah yg terindah bagi kami semua.Kemarin Ni Luh Made Puja Gayatri yang  dipanggil AyA melaksanakan prosesi ritual tiga bulanan.Semoga AyA tumbuh dan berkembang dengan baik dan selalu ditemani kebahagiaan dan kedamaian.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hariyasasanjaya.com/puja-gayatri/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mencegah &#8220;epidemi seksio sesarea&#8221; dengan pengelolaan nyeri melalui persalinan di air</title>
		<link>http://www.hariyasasanjaya.com/mencegah-epidemi-seksio-sesarea-dengan-pengelolaan-nyeri-melalui-persalinan-di-air/</link>
		<comments>http://www.hariyasasanjaya.com/mencegah-epidemi-seksio-sesarea-dengan-pengelolaan-nyeri-melalui-persalinan-di-air/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Apr 2009 08:44:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Water Birth]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hariyasasanjaya.com/mencegah-epidemi-seksio-sesarea-dengan-pengelolaan-nyeri-melalui-persalinan-di-air/</guid>
		<description><![CDATA[Persalinan merupakan sebuah peristiwa penting dalam kehidupan manusia. Dan merupakan satu rangkaian yang menyatu dengan kehamilan. Peristiwa yang merupakan suatu proses dalam melestarikan spesies manusia.Kini berkembang suatu pandangan dan dorongan untuk lebih memanusiakan manusia dalam melalui proses persalinan. Yang dimaksud memanusiakan adalah mencakup tiga aspek yaitu:1.	Otonomi pasien. Pasien memiliki hak yang melekat sebagai manusia untuk memilih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: 'lucida grande'; font-size: 11px; line-height: 14px" class="Apple-style-span">Persalinan merupakan sebuah peristiwa penting dalam kehidupan manusia. Dan merupakan satu rangkaian yang menyatu dengan kehamilan. Peristiwa yang merupakan suatu proses dalam melestarikan spesies manusia.Kini berkembang suatu pandangan dan dorongan untuk lebih memanusiakan manusia dalam melalui proses persalinan. Yang dimaksud memanusiakan adalah mencakup tiga aspek yaitu:1.	Otonomi pasien. Pasien memiliki hak yang melekat sebagai manusia untuk memilih cara persalinan. Setelah mendapat informasi, edukasi dan konseling yang baik tentang setiap pilihan cara persalianan. 2.	Partisipasi keluarga. Dukungan dan peran aktif suami dan keluarga dalam proses persalinan dipandang positif dan harus difasilitasi dalam proses persalinan baik saat di ruang bersalin maupun di kamar operasi.3.	Pengelolaan nyeri. Nyeri dalam proses persalinan harus dikelola dengan baik untuk membuat rasa nyaman pada ibu melahirkan sehingga diperoleh manfaat berupa proses persalinan yang berjalan baik, luaran ibu dan bayi yang baik serta tidak terjadinya risiko gangguan psikologis pada masa nifas atau selanjutnya.Pandangan ini kemudian menciptakan inovasi-inovasi dalam pelayanan persalinan yang mendukung pencapaian tujuan humanisasi dalam proses persalinan. Water birth, bersalin di dalam air, merupakan salah satu alternatif persalinan normal yang bertujuan untuk ketiga aspek tersebut di atas. Sejarah persalinan di air sudah sangat lama. Tahun 1700 praktek pengobatan dengan menggunakan air telah ditulis. Kemudian tahun 1723 di London ditulis buku tentang “water cure” yang menjelaskan manfaat air dalam proses persalinan dan kelahiran. Dan Suku Kuhuna di kepulauan Hawai telah sejak ribuan generasi melahirkan di air. Dan kemudian berkembang dengan pelaksanaan water birth di air hangat oleh Frederick Leboter membuat proses adaptasi bayi dari kehidupan di dalam rahim ke luar rahim menjadi lebih baik. Di tahun 1980-1990 tumbuh pesat persalinan di air di Inggris, Kanada dan Negara Eropa lainnya. Di bulan April 2006 The Royal College of Obstetricians and Gynecologists (RCOG) dan The Royal College of midwives dengan tegas mendukung water birth. Suatu Randomised Controlled Trial membandingkan ibu yang menggunakan “water immersion for labour dystocia rather than standard augmention” menunjukkan rendahnya intervensi obstetri dan kebutuhan akan analgesik epidural. Laporan retrospektif mendapatkan terjadi peningkatan kepuasan ibu dan pengurangan nyeri pada persalinan.A Cochrane Systemic review mendukung kesimpulan bahwa berendam dalam air selama persalinan kala I akan dapat mengurangi penggunaan analgesik dan rasa nyeri pada ibu bersalin, tanpa hal merugikan dalam durasi persalinan, luaran bayi dan persalinan operatif.Di Indonesia metode ini masih merupakan suatu yang baru. Walaupun sebenarnya ada beberapa suku di Papua yang melahirkan di air sungai. Untuk di Bali di Desa Nyuh Kuning, Ubud klinik Yayasan Bumi Sehat,yang dikelola oleh bidan Robin Lym sejak tahun 2003 telah melaksanakan metode ini dengan sekitar 400 persalinan WB per tahun. Dan di klinik ini pula Oppie Andaresta pada tanggal 20 Juli 2007 melahirkan anaknya di air. Peristiwa ini yang kemudian menjadi populer oleh karena publikasi media. Di Jakarta tahun 1993 Dr. Liz Adianti Harlizon pernah mencoba metode ini di RSIB Harapan Kita. Dan kemudian sejak 4 Oktober 2006 Dr.T Otamar Samsudin,SpOG dan Dr.Keumala Pringgadini,SpA melaksanakan metode ini di SanMarie Family Healthcare Jakarta. Di Denpasar Dr. Hariyasa Sanjaya,SpOG sejak Oktober 2007 di RSB Harapan Bunda telah melayani 56 kasus persalinan di air.Saat ini adanya fakta meningkatnya angka bedah cesar di seluruh dunia telah menyebabkan banyak orang khawatir dengan terjadinya “endemi bedah cesar” yang memicu munculnya sentimen bahwa para wanita telah direnggutkan, diingkari dari pengalaman bersalin yang sejati dan alami. Mary Gabay dan Sidney Wolfe,MD dalam Unnecessary Cesarean Sections: Curing a National Epidemic, yang diterbitkan oleh Public Citizen’s Health Research Group (1994) menulis:”Tak disadari bahwa setiap hari bedah cesar yang tak perlu dilakukan pada ribuan wanita, menyia-nyiakan jutaan dolar dana pelayanan kesehatan yang berharga sementara hampir 40 juta orang Amerika kekurangan asuransi kesehatan dasar”.Ketakutan dan mitos yang negatif dan pesimistis telah mempengaruhi munculnya permintaan bedah cesar yang tidak perlu karena takut sakit dan takut gagal dalam upaya persalinan normal dan munculnya sikap yang ingin mendapat sesuatu secara instan dan tidak menyukai proses telah merubah pandangan para wanita seolah-olah bedah cesar lebih aman dibandingkan persalinan normal. Pandangan ini sungguh keliru dan semestinya diluruskan.Sebenarnya wanita ingin melalui proses persalinan dengan lebih nyaman. Dan keinginan ini menumbuhkan permintaan akan pelayanan yang menyediakan unit persalinan di air. Kenyataan ini harus disikapi dengan positif oleh para penyedian pelayanan persalinan.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hariyasasanjaya.com/mencegah-epidemi-seksio-sesarea-dengan-pengelolaan-nyeri-melalui-persalinan-di-air/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan jadikan persalinan hanya sekedar peristiwa biologis dan medis semata.</title>
		<link>http://www.hariyasasanjaya.com/jangan-jadikan-persalinan-hanya-sekedar-peristiwa-biologis-dan-medis-semata/</link>
		<comments>http://www.hariyasasanjaya.com/jangan-jadikan-persalinan-hanya-sekedar-peristiwa-biologis-dan-medis-semata/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Apr 2009 08:42:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Water Birth]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hariyasasanjaya.com/jangan-jadikan-persalinan-hanya-sekedar-peristiwa-biologis-dan-medis-semata/</guid>
		<description><![CDATA[Caroline M de Costa dan Stephen Robson dalam artikelnya berjudul “Throwing out the baby with the spa water? Memaparkan bahwa  sebelum abad ke 20, proses persalinan merupakan peristiwa sosial yang dilaksanakan di rumah. Sebagai sebuah tempat melahirkan, rumah sakit saat itu hanyalah menjadi tempat terakhir setelah semua usaha mengalami kegagalan. Sepanjang abad ke 20, terjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left" align="center" class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial" class="Apple-style-span">Caroline M de Costa dan Stephen Robson dalam artikelnya berjudul “Throwing out the baby with the spa water? Memaparkan bahwa<span>  </span>sebelum abad ke 20, proses persalinan merupakan peristiwa sosial yang dilaksanakan di rumah. Sebagai sebuah tempat melahirkan, rumah sakit saat itu hanyalah menjadi tempat terakhir setelah semua usaha mengalami kegagalan. Sepanjang abad ke 20, terjadi peningkatan peranan pekerja medis dalam kehamilan dan persalinan yang mengakibatkan pergeseran perawatan menjadi ke rumah sakit bagi sebagian besar perempuan.</span></p>
<p style="text-align: left" class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial, sans-serif">Saat ini intervensi-intervensi obstetri, terutama seksio sesarea meningkat sangat tajam (di Australia 1 dari 4 kelahiran melalui seksio sesarea). Hal ini menunjukkan suatu bukti intervensi yang tidak perlu dimana para ahli kebidanan harusnya mempertanggungjawabkannya.<o:p></o:p></span></p>
<p style="text-align: left" class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial, sans-serif">Pendapat ini didukung oleh banyak penulis dengan sebuah pernyataan:”Westernisasi, medikalisasi, perawatan ibu bertekhnologi tinggi di bawah kendali obstetri sering kali medehumanisasi dan sering mengakibatkan dilakukannya intervensi obstetri yang tidak perlu, mahal, berbahaya, dan invasive.<o:p></o:p></span></p>
<p style="text-align: left" class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial, sans-serif">Reaksi terhadap persepsi medikalisasi memunculkan harapan yang sangat bisa dipahami pada perempuan, dan keluarga mereka, para bidan dan juga banyak dokter untuk menciptakan lingkungan yang lebih alami pada persalinan tanpa komplikasi. <span> </span>Meningkatnya pemahaman ini memberikan tempat bagi kualitas pengalaman perempuan saat melahirkan.<o:p></o:p></span></p>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal" class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial, sans-serif">Caroline M de Costa dan Stephen Robson mempertanyakan apakah medikalisasi dalam persalinan sudah bertindak terlalu berlebihan. <span> </span>Pandangan yang penuh kekhawatiran ini akan terus muncul dan tumbuh semakin kuat. <o:p></o:p></span></p>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal" class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial, sans-serif"><o:p> Dahulu persalinan merupakan peristiwa domestik yang penuh relasi dan interaksi sosial. Dimana<span>  </span>para leluhur memaknai peristiwa persalinan dalam ranah dunia-akhirat (sekala-niskala) dan nilai-nilai kultural dan spiritualitas yang sangat kental. Namun kini persalinan telah menjadi hanya sekedar urusan biologis yang sekuler, komersiil dan medikalisasi semata.</o:p></span></p>
<p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal" class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial, sans-serif"><o:p> Akankah kita membiarkan hal ini terus terjadi? Semoga tidak.</o:p></span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial, sans-serif"><o:p> </o:p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hariyasasanjaya.com/jangan-jadikan-persalinan-hanya-sekedar-peristiwa-biologis-dan-medis-semata/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kita kini lebih suka yang instan</title>
		<link>http://www.hariyasasanjaya.com/kita-kini-lebih-suka-yang-instan/</link>
		<comments>http://www.hariyasasanjaya.com/kita-kini-lebih-suka-yang-instan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 15:51:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hariyasasanjaya.com/kita-kini-lebih-suka-yang-instan/</guid>
		<description><![CDATA[
Tadi pagi, saya membantu seorang ibu hamil melahirkan bayinya dengan seksio sesarea walau secara medis belum ada indikasi untuk melakukan operasi. Keinginan ibu hamil ini semata-mata karena dia takut nyeri dan takut gagal melahirkan normal. Ditambah oleh karena riwayat kehamilan sebelumnya dengan keguguran. Saya coba jelaskan dengan sebaik mungkin dan memotivasi agar dia mau dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #333333; font-family: 'lucida grande'; font-size: 11px; line-height: 14px" class="Apple-style-span"><span class="Apple-style-span" style="color: #000000; font-family: Georgia; font-size: 16px; line-height: 20px"><a href="http://www.hariyasasanjaya.com/wp-content/uploads/2009/02/reincarnation.jpg" title="reincarnation.jpg"><img src="http://www.hariyasasanjaya.com/wp-content/uploads/2009/02/reincarnation.thumbnail.jpg" alt="reincarnation.jpg" /></a></span></span>
<p class="MsoNormal"><span class="apple-style-span"><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: 'lucida grande', serif; color: #333333">Tadi pagi, saya membantu seorang ibu hamil melahirkan bayinya dengan seksio sesarea walau secara medis belum ada indikasi untuk melakukan operasi. Keinginan ibu hamil ini semata-mata karena dia takut nyeri dan takut gagal melahirkan normal. Ditambah oleh karena riwayat kehamilan sebelumnya dengan keguguran. Saya coba jelaskan dengan sebaik mungkin dan memotivasi agar dia mau dan berani memilih persalinan normal. Namun ibu tersebut tetap pada pendiriaannya.</span></span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: 'lucida grande', serif; color: #333333"><span class="apple-style-span">Kini banyak orang memiliki keyakinan sepertinya melahirkan dengan seksio sesarea lebih aman dari pada melahirkan normal. Dan menganggap lebih nyaman dan cepat.</span><span class="apple-style-span">Pandangan yg keliru ini telah menjadi populer dan jamak.</span></span></p>
<p> <a href="http://www.hariyasasanjaya.com/kita-kini-lebih-suka-yang-instan/#more-117" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hariyasasanjaya.com/kita-kini-lebih-suka-yang-instan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Childbirth not just a medical entity</title>
		<link>http://www.hariyasasanjaya.com/childbirth-not-just-a-medical-entity/</link>
		<comments>http://www.hariyasasanjaya.com/childbirth-not-just-a-medical-entity/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Feb 2009 10:55:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hariyasasanjaya.com/childbirth-not-just-a-medical-entity/</guid>
		<description><![CDATA[ Elizabeth Sinclair, seorang journalist menulis sebuah artikel di http://www.thejakartaglobe.com/life-times/article/7386.html dengan judul &#8220;Center of Gentle Birthing&#8221;. Dalam tulisannya dia mengutip pendapat saya tentang pregnancy and childbirth.&#8221;Hariyasa said that he sees the modern global standards set by Western-dominated medicine for pregnancy and childbirth, without consideration of historical, cultural or spiritual diversity, as being a form of “scientific and medical imperialism.”Saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.hariyasasanjaya.com/wp-content/uploads/2009/02/balinese-baby-2.jpg" title="balinese-baby-2.jpg"><img src="http://www.hariyasasanjaya.com/wp-content/uploads/2009/02/balinese-baby-2.thumbnail.jpg" alt="balinese-baby-2.jpg" /></a> <span style="color: #333333; font-family: 'lucida grande'; font-size: 11px; line-height: 14px" class="Apple-style-span">Elizabeth Sinclair, seorang journalist menulis sebuah artikel di <a href="http://www.thejakartaglobe.com/life-times/article/7386.html" onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), " style="cursor: pointer; color: #3b5998; text-decoration: none" rel="nofollow" target="_blank"><span>http://www.thejakartaglobe</span><wbr></wbr><span style="display: block; float: left; margin-left: -10px; padding: 0px" class="word_break"></span><span>.com/life-times/article/73</span><wbr></wbr><span style="display: block; float: left; margin-left: -10px; padding: 0px" class="word_break"></span>86.html</a> dengan judul &#8220;Center of Gentle Birthing&#8221;. Dalam tulisannya dia mengutip pendapat saya tentang pregnancy and childbirth.&#8221;Hariyasa said that he sees the modern global standards set by Western-dominated medicine for pregnancy and childbirth, without consideration of historical, cultural or spiritual diversity, as being a form of “scientific and medical imperialism.”Saya menyadari sebuah perubahan yg sangat luar biasa, mengapa kini kehamilan dan proses persalinan telah dibajak menjadi suatu urusan medical entity? Padahal untuk orang Timur kehamilan dan persalinan adalah proses sosial, budaya dengan nilai-nilai spiritualisme. Kini hampir 100 persen orang modern melahirkan bayinya tidak lagi di rumah namun di rumah sakit. Persalinan kini berlabel &#8220;medical business&#8221; bukan lagi sebuah peristiwa domestik dalam kehidupan sebuah keluarga. Saya terkesima bagaimana nenek saya melahirkan 13 orang anaknya di rumah tua kakek saya, di Desa Tajun, yang kala itu beriklim dingin dan tradisional. Dan ke-13 anak-anaknya lahir dengan sehat. Mengapa kini persalinan telah dijauhkan dari rumahnya, lingkungan keluarganya, dan tempat yg lebih nyaman dekat dengan keluarganya. Mengapa untuk melahirkan hampir 100 persen orang harus pergi meninggalkan rumah tempat tinggalnya ?Apakah melahirkan di rumah tidak aman lagi? </span><span style="color: #333333; font-family: 'lucida grande'; font-size: 11px; line-height: 14px" class="Apple-style-span">Mengapa kita tidak mau hidup dan berbahagia dengan cara kita dan cara yang telah diwariskan oleh para leluhur. Semoga kita tidak menjadi jiplakan, peniru orang Barat, dimana mereka juga memiliki kebingungan dalam menjalani kehidupan.</span> Mari kita bawa kembali nilai budaya, spiritualisme dalam peristiwa kehamilan dan persalinan yang bukan hanya urusan medis semata. Salam. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hariyasasanjaya.com/childbirth-not-just-a-medical-entity/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan buru-buru mengkonsumsi obat</title>
		<link>http://www.hariyasasanjaya.com/jangan-buru-buru-mengkonsumsi-obat/</link>
		<comments>http://www.hariyasasanjaya.com/jangan-buru-buru-mengkonsumsi-obat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2009 15:29:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pesan Singkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hariyasasanjaya.com/jangan-buru-buru-mengkonsumsi-obat/</guid>
		<description><![CDATA[Jika menstruasi tidak datang (dengan riwayat berhubungan intim saat masa subur) pertama pikirkan  apakah hamil atau tidak. Lakukan pemeriksaan kehamilan dengan test urin. Jangan minum obat-obatan atau jamu-jamuan yang dapat membahayakan kehamilan. Dapat menimbulkan cacad bawaan. Kehamilan awal bisa tanpa gejala. Jadi jangan buru-buru mengkonsumsi pil pelancar haid atau jamu datang bulan. Segera konsultasi dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika menstruasi tidak datang (dengan riwayat berhubungan intim saat masa subur) pertama pikirkan  apakah hamil atau tidak. Lakukan pemeriksaan kehamilan dengan test urin. Jangan minum obat-obatan atau jamu-jamuan yang dapat membahayakan kehamilan. Dapat menimbulkan cacad bawaan. Kehamilan awal bisa tanpa gejala. Jadi jangan buru-buru mengkonsumsi pil pelancar haid atau jamu datang bulan. Segera konsultasi dengan dokter untuk memastikan penyebab keterlambatan haid, jangan minum obat sembarangan.<a href="http://www.hariyasasanjaya.com/wp-content/uploads/2009/01/drugs.jpg" title="drugs.jpg"><img src="http://www.hariyasasanjaya.com/wp-content/uploads/2009/01/drugs.thumbnail.jpg" alt="drugs.jpg" /></a> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hariyasasanjaya.com/jangan-buru-buru-mengkonsumsi-obat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa kita memilih jenis kelamin anak?</title>
		<link>http://www.hariyasasanjaya.com/mengapa-kita-memilih-jenis-kelamin-anak/</link>
		<comments>http://www.hariyasasanjaya.com/mengapa-kita-memilih-jenis-kelamin-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jan 2009 14:13:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hariyasasanjaya.com/mengapa-kita-memilih-jenis-kelamin-anak/</guid>
		<description><![CDATA[


Saya hari ini membaca buku berjudul:&#8221;Pilih sendiri jenis kelamin anak anda&#8221;.Oleh penerbitnya di sampul depan ditulis &#8220;Dengan metode Shettles yang praktis dan telah terbukti secara ilmiah di banyak negara&#8221;. Buku ini ditulis oleh Landrum B.Shettles,M.D, PhD dan David M Rorvik. 
Buku ini oleh penerbitnya diklaim sudah terjual lebih dari 2 juta kopi.Teknik yang ditawarkan oleh Shettles [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #333333; font-family: 'lucida grande'; font-size: 11px; line-height: normal" class="Apple-style-span">
<p style="background-image: initial; background-repeat: initial; background-attachment: initial; -webkit-background-clip: initial; -webkit-background-origin: initial; background-color: #f7f7f7; border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; border-bottom-color: #d8dfea; border-top-style: solid; border-top-width: 1px; border-top-color: #3b5998; padding-top: 4px; padding-right: 6px; padding-bottom: 5px; padding-left: 6px" class="note_header">
<p class="note_title_share clearfix">
<p style="font-size: 9px; float: right" class="share_and_hide clearfix"><a style="cursor: pointer; color: #3b5998; text-decoration: none; padding-top: 0px; padding-right: 14px; padding-bottom: 1px; padding-left: 4px; display: block; float: left; background-image: url('http://static.ak.fbcdn.net/images/share_icon_small.gif'); background-repeat: repeat-y; background-attachment: initial; -webkit-background-clip: initial; -webkit-background-origin: initial; background-color: white; background-position: 100% 50%; border-width: 1px; border-color: #7f93bc; border-style: solid" title="Send this to friends or post it on your profile." class="share" onclick="return wait_for_load(this, event, function() { return share_internal_config("s=4&#038;appid=2347471856&#038;p[]=1089083786&#038;p[]=115640975610"); });"><span style="color: #333333; font-size: 11px; line-height: 14px" class="Apple-style-span"><span style="font-weight: bold" class="Apple-style-span">Saya hari ini membaca buku berjudul:&#8221;Pilih sendiri jenis kelamin anak anda&#8221;.Oleh penerbitnya di sampul depan ditulis &#8220;Dengan metode Shettles yang praktis dan telah terbukti secara ilmiah di banyak negara&#8221;. Buku ini ditulis oleh Landrum B.Shettles,M.D, PhD dan David M Rorvik. </span></span></a></p>
<p style="clear: none; line-height: 14px; text-align: left; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px"><span style="font-weight: bold" class="Apple-style-span">Buku ini oleh penerbitnya diklaim sudah terjual lebih dari 2 juta kopi.Teknik yang ditawarkan oleh Shettles lebih banyak kepada pengenalan akan perubahan dan tanda-tanda pada saat menstruasi seperti perubahan lendir leher rahim (cervical mucus).Namun, saya kembali pada pertanyaan dasar yaitu: haruskah kita memilih jenis kelamin anak? Dan untuk apa?Tidakkah akan terjadi gendercide, sehingga akan sangat sedikit jenis kelamin tertentu. Misalnya untuk masyarakat Bali yang &#8220;mewajibkan&#8221; memiliki anak lelaki akan menciptakan sebuah demografi penduduk yang lebih banyak lelakinya dari pada perempuan.Mengapa kita tidak membiarkan saja alam mengatur seperti iramanya.Saya sering bertemu dengan permintaan pasangan akan jenis kelamin tertentu. Kebanyakan menginginkan anak laki-laki.Haruskah kita memilih ?Buku ini memberikan pedoman praktis. Walau saya masih belum terlalu yakin dengan klaim keberhasilannya. Dan jika benar buku ini bestseller, ini membuktikan bahwa masih sangat banyak orang memilih jenis kelamin untuk anaknya.</span>
<p style="clear: none; line-height: 14px; text-align: left; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px"><span style="font-weight: bold" class="Apple-style-span"> </span></p>
<p style="clear: none; line-height: 14px; text-align: left; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px"><span>Hmmmm&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</span><wbr></wbr><span style="display: block; float: left; margin-left: -10px; padding: 0px" class="word_break"></span>&#8230;<span style="line-height: normal" class="Apple-style-span"><a href="http://www.hariyasasanjaya.com/wp-content/uploads/2009/01/sex-selection.jpg" title="sex-selection.jpg"><img src="http://www.hariyasasanjaya.com/wp-content/uploads/2009/01/sex-selection.jpg" alt="sex-selection.jpg" /></a></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hariyasasanjaya.com/mengapa-kita-memilih-jenis-kelamin-anak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Lotus baby in 2 day old</title>
		<link>http://www.hariyasasanjaya.com/lotus-baby-in-2-day-old/</link>
		<comments>http://www.hariyasasanjaya.com/lotus-baby-in-2-day-old/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 17:00:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Info Patients]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hariyasasanjaya.com/lotus-baby-in-2-day-old/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.hariyasasanjaya.com/wp-content/uploads/2009/01/img_5773.JPG" title="img_5773.JPG"><img src="http://www.hariyasasanjaya.com/wp-content/uploads/2009/01/img_5773.JPG" alt="img_5773.JPG" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hariyasasanjaya.com/lotus-baby-in-2-day-old/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Lotus birth</title>
		<link>http://www.hariyasasanjaya.com/lotus-birth/</link>
		<comments>http://www.hariyasasanjaya.com/lotus-birth/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2008 07:28:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Water Birth]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hariyasasanjaya.com/lotus-birth/</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu, saya melayani persalinan seorang ibu dengan permintaan persalinan dengan Lotus Birth. Persalinan dimana tali pusat dan plasenta (ari-ari) tidak dijepit dan dipotong atau dipisahkan dari bayinya. Ini merupakan kasus pertama saya dengan Lotus Birth. Saya melihat setelah bayi lahir, dua hari kemudian tali pusat dan plasenta sudah mulai mengering. Persalinan ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu, saya melayani persalinan seorang ibu dengan permintaan persalinan dengan Lotus Birth. Persalinan dimana tali pusat dan plasenta (ari-ari) tidak dijepit dan dipotong atau dipisahkan dari bayinya. Ini merupakan kasus pertama saya dengan Lotus Birth. Saya melihat setelah bayi lahir, dua hari kemudian tali pusat dan plasenta sudah mulai mengering. Persalinan ini memberi perenungan yang dalam untuk saya. Untuk sekilas info tentang Lotus Birth saya kutip tulisan dari Wikipedia di bawah ini. 
<p id="contentSub"><strong>Lotus birth,</strong> or Umbilical Nonseverance, is the  practice of leaving the <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Umbilical_cord" title="Umbilical cord">umbilical cord</a> unclamped  and intact following birth.</p>
<p class="thumb tright"> </p>
<p style="width: 172px" class="thumbinner"><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Image:Isaiah_Lotus_birth_2007.jpg" title="Lotus Birth, Day 3 postpartum, the sinew-like unwrapped cord seen at left side of child, just hours before natural detachment.  2007" class="image"><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/7/78/Isaiah_Lotus_birth_2007.jpg" border="0" width="170" height="187" class="thumbimage" /></a></p>
<p> <a href="http://www.hariyasasanjaya.com/lotus-birth/#more-105" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hariyasasanjaya.com/lotus-birth/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
