Sunday, February 1st, 2009 | Posted in Categories : Renungan | 496 Views
Elizabeth Sinclair, seorang journalist menulis sebuah artikel di http://www.thejakartaglobe.com/life-times/article/7386.html dengan judul “Center of Gentle Birthing”. Dalam tulisannya dia mengutip pendapat saya tentang pregnancy and childbirth.”Hariyasa said that he sees the modern global standards set by Western-dominated medicine for pregnancy and childbirth, without consideration of historical, cultural or spiritual diversity, as being a form of “scientific and medical imperialism.”Saya menyadari sebuah perubahan yg sangat luar biasa, mengapa kini kehamilan dan proses persalinan telah dibajak menjadi suatu urusan medical entity? Padahal untuk orang Timur kehamilan dan persalinan adalah proses sosial, budaya dengan nilai-nilai spiritualisme. Kini hampir 100 persen orang modern melahirkan bayinya tidak lagi di rumah namun di rumah sakit. Persalinan kini berlabel “medical business” bukan lagi sebuah peristiwa domestik dalam kehidupan sebuah keluarga. Saya terkesima bagaimana nenek saya melahirkan 13 orang anaknya di rumah tua kakek saya, di Desa Tajun, yang kala itu beriklim dingin dan tradisional. Dan ke-13 anak-anaknya lahir dengan sehat. Mengapa kini persalinan telah dijauhkan dari rumahnya, lingkungan keluarganya, dan tempat yg lebih nyaman dekat dengan keluarganya. Mengapa untuk melahirkan hampir 100 persen orang harus pergi meninggalkan rumah tempat tinggalnya ?Apakah melahirkan di rumah tidak aman lagi? Mengapa kita tidak mau hidup dan berbahagia dengan cara kita dan cara yang telah diwariskan oleh para leluhur. Semoga kita tidak menjadi jiplakan, peniru orang Barat, dimana mereka juga memiliki kebingungan dalam menjalani kehidupan. Mari kita bawa kembali nilai budaya, spiritualisme dalam peristiwa kehamilan dan persalinan yang bukan hanya urusan medis semata. Salam.
Share and Enjoy:
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
Related Articles
6 users responded in this post
dok..permasalahan di rumah tidak ada alat2 monitor kesejahteraan ibu & bayi, dan yg paling penting kalo ada fetal distress sulit ditolong kalo di rumah..
dok…gmn kalo fetal distress, perlu berapa waktu ke rumah sakit terdekat…tp idenya sngat bagus dok terutama sy nanti di kupang
Kita boleh mengambil yang baik dan bagus dari kebudayaan luar…..Tapi kita jangan lupa akan kebudayaan bangsa sendiri, yang harus kita pertahankan, karena kalau kita tidak menghargainya bagaimana orang lain akan menghargai budaya tersebut….
Gus, kejadian fetal distress ternyata hanya 8 %. Dan jika dilakukan seleksi pasien dengan penapisan risiko maka melahirkan di rumah masih dapat dilakukan.
Saya sangat setuju dgn pendapat Dr.Miko. Kita harus terbuka namun tetap menjaga integritas dan identitas diri.
Kalo bgt kita sgt selektif penapisan risiko..tp bgmn nasib profesi kita ke depan dok??tp sy percaya semua sudah disiapkan dan dicukupkan oleh Tuhan kpd kita sesuai wadah kita
Leave A Comment
Please Note: Comment moderation maybe active so there is no need to resubmit your comments