Mencegah “epidemi seksio sesarea” dengan pengelolaan nyeri melalui persalinan di air
Sunday, April 19th, 2009 | 1,612 ViewsPersalinan merupakan sebuah peristiwa penting dalam kehidupan manusia. Dan merupakan satu rangkaian yang menyatu dengan kehamilan. Peristiwa yang merupakan suatu proses dalam melestarikan spesies manusia.Kini berkembang suatu pandangan dan dorongan untuk lebih memanusiakan manusia dalam melalui proses persalinan. Yang dimaksud memanusiakan adalah mencakup tiga aspek yaitu:1. Otonomi pasien. Pasien memiliki hak yang melekat sebagai manusia untuk memilih cara persalinan. Setelah mendapat informasi, edukasi dan konseling yang baik tentang setiap pilihan cara persalianan. 2. Partisipasi keluarga. Dukungan dan peran aktif suami dan keluarga dalam proses persalinan dipandang positif dan harus difasilitasi dalam proses persalinan baik saat di ruang bersalin maupun di kamar operasi.3. Pengelolaan nyeri. Nyeri dalam proses persalinan harus dikelola dengan baik untuk membuat rasa nyaman pada ibu melahirkan sehingga diperoleh manfaat berupa proses persalinan yang berjalan baik, luaran ibu dan bayi yang baik serta tidak terjadinya risiko gangguan psikologis pada masa nifas atau selanjutnya.Pandangan ini kemudian menciptakan inovasi-inovasi dalam pelayanan persalinan yang mendukung pencapaian tujuan humanisasi dalam proses persalinan. Water birth, bersalin di dalam air, merupakan salah satu alternatif persalinan normal yang bertujuan untuk ketiga aspek tersebut di atas. Sejarah persalinan di air sudah sangat lama. Tahun 1700 praktek pengobatan dengan menggunakan air telah ditulis. Kemudian tahun 1723 di London ditulis buku tentang “water cure” yang menjelaskan manfaat air dalam proses persalinan dan kelahiran. Dan Suku Kuhuna di kepulauan Hawai telah sejak ribuan generasi melahirkan di air. Dan kemudian berkembang dengan pelaksanaan water birth di air hangat oleh Frederick Leboter membuat proses adaptasi bayi dari kehidupan di dalam rahim ke luar rahim menjadi lebih baik. Di tahun 1980-1990 tumbuh pesat persalinan di air di Inggris, Kanada dan Negara Eropa lainnya. Di bulan April 2006 The Royal College of Obstetricians and Gynecologists (RCOG) dan The Royal College of midwives dengan tegas mendukung water birth. Suatu Randomised Controlled Trial membandingkan ibu yang menggunakan “water immersion for labour dystocia rather than standard augmention” menunjukkan rendahnya intervensi obstetri dan kebutuhan akan analgesik epidural. Laporan retrospektif mendapatkan terjadi peningkatan kepuasan ibu dan pengurangan nyeri pada persalinan.A Cochrane Systemic review mendukung kesimpulan bahwa berendam dalam air selama persalinan kala I akan dapat mengurangi penggunaan analgesik dan rasa nyeri pada ibu bersalin, tanpa hal merugikan dalam durasi persalinan, luaran bayi dan persalinan operatif.Di Indonesia metode ini masih merupakan suatu yang baru. Walaupun sebenarnya ada beberapa suku di Papua yang melahirkan di air sungai. Untuk di Bali di Desa Nyuh Kuning, Ubud klinik Yayasan Bumi Sehat,yang dikelola oleh bidan Robin Lym sejak tahun 2003 telah melaksanakan metode ini dengan sekitar 400 persalinan WB per tahun. Dan di klinik ini pula Oppie Andaresta pada tanggal 20 Juli 2007 melahirkan anaknya di air. Peristiwa ini yang kemudian menjadi populer oleh karena publikasi media. Di Jakarta tahun 1993 Dr. Liz Adianti Harlizon pernah mencoba metode ini di RSIB Harapan Kita. Dan kemudian sejak 4 Oktober 2006 Dr.T Otamar Samsudin,SpOG dan Dr.Keumala Pringgadini,SpA melaksanakan metode ini di SanMarie Family Healthcare Jakarta. Di Denpasar Dr. Hariyasa Sanjaya,SpOG sejak Oktober 2007 di RSB Harapan Bunda telah melayani 56 kasus persalinan di air.Saat ini adanya fakta meningkatnya angka bedah cesar di seluruh dunia telah menyebabkan banyak orang khawatir dengan terjadinya “endemi bedah cesar” yang memicu munculnya sentimen bahwa para wanita telah direnggutkan, diingkari dari pengalaman bersalin yang sejati dan alami. Mary Gabay dan Sidney Wolfe,MD dalam Unnecessary Cesarean Sections: Curing a National Epidemic, yang diterbitkan oleh Public Citizen’s Health Research Group (1994) menulis:”Tak disadari bahwa setiap hari bedah cesar yang tak perlu dilakukan pada ribuan wanita, menyia-nyiakan jutaan dolar dana pelayanan kesehatan yang berharga sementara hampir 40 juta orang Amerika kekurangan asuransi kesehatan dasar”.Ketakutan dan mitos yang negatif dan pesimistis telah mempengaruhi munculnya permintaan bedah cesar yang tidak perlu karena takut sakit dan takut gagal dalam upaya persalinan normal dan munculnya sikap yang ingin mendapat sesuatu secara instan dan tidak menyukai proses telah merubah pandangan para wanita seolah-olah bedah cesar lebih aman dibandingkan persalinan normal. Pandangan ini sungguh keliru dan semestinya diluruskan.Sebenarnya wanita ingin melalui proses persalinan dengan lebih nyaman. Dan keinginan ini menumbuhkan permintaan akan pelayanan yang menyediakan unit persalinan di air. Kenyataan ini harus disikapi dengan positif oleh para penyedian pelayanan persalinan.







