Category : Renungan

Kita kini lebih suka yang instan

Sunday, February 8th, 2009 | 691 Views

reincarnation.jpg

Tadi pagi, saya membantu seorang ibu hamil melahirkan bayinya dengan seksio sesarea walau secara medis belum ada indikasi untuk melakukan operasi. Keinginan ibu hamil ini semata-mata karena dia takut nyeri dan takut gagal melahirkan normal. Ditambah oleh karena riwayat kehamilan sebelumnya dengan keguguran. Saya coba jelaskan dengan sebaik mungkin dan memotivasi agar dia mau dan berani memilih persalinan normal. Namun ibu tersebut tetap pada pendiriaannya.Kini banyak orang memiliki keyakinan sepertinya melahirkan dengan seksio sesarea lebih aman dari pada melahirkan normal. Dan menganggap lebih nyaman dan cepat.Pandangan yg keliru ini telah menjadi populer dan jamak.

(more…)

Childbirth not just a medical entity

Sunday, February 1st, 2009 | 496 Views

balinese-baby-2.jpg Elizabeth Sinclair, seorang journalist menulis sebuah artikel di http://www.thejakartaglobe.com/life-times/article/7386.html dengan judul “Center of Gentle Birthing”. Dalam tulisannya dia mengutip pendapat saya tentang pregnancy and childbirth.”Hariyasa said that he sees the modern global standards set by Western-dominated medicine for pregnancy and childbirth, without consideration of historical, cultural or spiritual diversity, as being a form of “scientific and medical imperialism.”Saya menyadari sebuah perubahan yg sangat luar biasa, mengapa kini kehamilan dan proses persalinan telah dibajak menjadi suatu urusan medical entity? Padahal untuk orang Timur kehamilan dan persalinan adalah proses sosial, budaya dengan nilai-nilai spiritualisme. Kini hampir 100 persen orang modern melahirkan bayinya tidak lagi di rumah namun di rumah sakit. Persalinan kini berlabel “medical business” bukan lagi sebuah peristiwa domestik dalam kehidupan sebuah keluarga. Saya terkesima bagaimana nenek saya melahirkan 13 orang anaknya di rumah tua kakek saya, di Desa Tajun, yang kala itu beriklim dingin dan tradisional. Dan ke-13 anak-anaknya lahir dengan sehat. Mengapa kini persalinan telah dijauhkan dari rumahnya, lingkungan keluarganya, dan tempat yg lebih nyaman dekat dengan keluarganya. Mengapa untuk melahirkan hampir 100 persen orang harus pergi meninggalkan rumah tempat tinggalnya ?Apakah melahirkan di rumah tidak aman lagi? Mengapa kita tidak mau hidup dan berbahagia dengan cara kita dan cara yang telah diwariskan oleh para leluhur. Semoga kita tidak menjadi jiplakan, peniru orang Barat, dimana mereka juga memiliki kebingungan dalam menjalani kehidupan. Mari kita bawa kembali nilai budaya, spiritualisme dalam peristiwa kehamilan dan persalinan yang bukan hanya urusan medis semata. Salam. 

Mengapa kita memilih jenis kelamin anak?

Sunday, January 11th, 2009 | 833 Views

Buku ini oleh penerbitnya diklaim sudah terjual lebih dari 2 juta kopi.Teknik yang ditawarkan oleh Shettles lebih banyak kepada pengenalan akan perubahan dan tanda-tanda pada saat menstruasi seperti perubahan lendir leher rahim (cervical mucus).Namun, saya kembali pada pertanyaan dasar yaitu: haruskah kita memilih jenis kelamin anak? Dan untuk apa?Tidakkah akan terjadi gendercide, sehingga akan sangat sedikit jenis kelamin tertentu. Misalnya untuk masyarakat Bali yang “mewajibkan” memiliki anak lelaki akan menciptakan sebuah demografi penduduk yang lebih banyak lelakinya dari pada perempuan.Mengapa kita tidak membiarkan saja alam mengatur seperti iramanya.Saya sering bertemu dengan permintaan pasangan akan jenis kelamin tertentu. Kebanyakan menginginkan anak laki-laki.Haruskah kita memilih ?Buku ini memberikan pedoman praktis. Walau saya masih belum terlalu yakin dengan klaim keberhasilannya. Dan jika benar buku ini bestseller, ini membuktikan bahwa masih sangat banyak orang memilih jenis kelamin untuk anaknya.

 

Hmmmm…………………sex-selection.jpg