Category : Kesehatan

Perawatan Antenatal Berbagi

Sunday, September 20th, 2009 | 896 Views

bu-mil.jpgbu-mil.jpg

Sebuah berita menarik  berjudul “Kesehatan Gratis di 114 Puskesmas” tentang Jamkes Bali Mandara di Koran Mingguan TOKOH 6-12 September 2009 merupakan sebuah berita tentang program Pemerintah Propinsi Bali dalam upaya meningkatkan tingkat indeks pembangunan masyarakat terutama meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Bali.  Langkah strategis dan  penting ini  memiliki makna antara lain Pemerintah Propinsi Bali menekankan kembali  pentingnya kesehatan masyarakat sebagai faktor penting yang mendasar dari kesejahteraan masyarakat serta akan tercipta suatu sistem pembiayaan dalam pelayanan kesehatan yang merealisasi semangat untuk mewujudkan keadilan sosial bagi masyarakat.

Dan konsekuensi dari program Pemerintah Propinsi Bali ini menuntut peningkatan kualitas pelayanan puskesmas yang akan terlibat di dalamnya. Salah satu pelayanan kesehatan di puskesmas yang menjadi prioritas adalah pelayanan kesehatan ibu dan anak. Kegiatan rutin dalam pelayanan ini adalah perawatan antenatal bagi ibu hamil.  Sangat erat kaitannya hubungan antara kualitas pelayanan antenatal dalam meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang diukur dengan angka kematian ibu hamil dan melahirkan dan angka kematian bayi baru lahir.

 

Perawatan antenatal dilaksanakan untuk melakukan penapisan terhadap kondisi kesehatan ibu hamil dimana faktor sosio-ekonomi sangat berpengaruh terhadap kualitas luaran kehamilan. Perawatan antenatal juga dapat digunakan untuk mengetahui efektifitas pelayanan, serta memberikan pendidikan bagi para ibu hamil tentang bagaimana merencanakan persalinan yang aman, dan memberikan pengetahuan tentang keadaan-keadaan  darurat selama kehamilan serta mengetahui bagaimana cara mengatasi masalah-masalah tersebut.

 

Program perawatan antenatal  di Indonesia masih menghadapi berbagai masalah baik dalam cakupan serta kualitas. Soal koordinasi dan integrasi serta team work dalam pelayanan antenatal  masih menjadi masalah yang utama. Berkurangnya peran dokter umum (dokter pemberi pelayanan primer) dalam perawatan antenatal  merupakan sesuatu yang mengkhawatirkan. Koordinasi serta sinergisme yang kurang kuat antara pemberi pelayanan perawatan antenatal yaitu bidan dan dokter spesialis kebidanan dan kandungan. Tidak standarnya pedoman atau acuan dalam pelaksanaan perawatan antenatal juga merupakan masalah penting lainnya.

Pada tulisan ini penulis ingin mengutip suatu model perawatan antenatal berbagi  di tempat lain. Kata ‘berbagi’ sangat indah terbaca dan mengandung makna kebersamaan dalam suatu tanggung jawab untuk memberikan pelayanan bagi ibu hamil. Dalam pelayanan antenatal berbagi ini peran dokter umum, bidan dan dokter spesialis kebidanan dan kandungan diatur secara jelas dengan jadwal, tujuan pemeriksaan dan hal-hal penting yang harus disampaikan kepada ibu hamil.

Perawatan antenatal berbagi (PAB) ditujukan untuk ibu hamil yang kesehatannya baik dengan kehamilan tunggal tanpa komplikasi (kategori A, kehamilan risiko rendah).

Sedangkan untuk kategori B (kehamilan dengan risiko sedang) dan C (kehamilan dengan risiko tinggi) memerlukan perawatan khusus dari dokter spesialis kebidanan dan kandungan atau spesialis yang lain.

Ketegori A faktor-faktor risiko rendah, dapat dikelola dalam perawatan berbagi oleh dokter umum.

Sedangkan kriteria kehamilan dengan kategori B (dengan faktor-faktor risiko sedang) contohnya: kehamilan kembar, kadar Hemoglobin ibu < 10 gram/dl, usia ibu kurang dari 15 tahun  dan lebih dari 35 tahun, adanya infeksi aktif seperti: syphilis, positif HIV, tuberculosis, dan positif virus Hepatitis B, riwayat persalinan sebelumnya dengan seksio sesarea

Kehamilan dengan kategori C (risiko tinggi)  yaitu dengan kelainan medis seperti: penyakit ginjal, penyakit jantung berat, asthma berat, kelainan endokrin,  penyakit hati,kelainan darah kelainan saraf seperti epilepsi dan kelainan kelenjar thyroid berat. Serta hipertensi dalam kehamilan termasuk pre-eclampsi dan penyakit infeksi seperti HIV.

 

 

Jadwal kunjungan

Jadwal kunjungan untuk perawatan antenatal berbagi telah ditentukan saat pertama kali kunjungan ibu hamil. Jadwal kunjungan ini dibagi antara dokter umum dan dokter spesialis. Dapat pula berbagi antara bidan, dokter umum dan dokter obgyn. Setidaknya ada 3 kali jadwal untuk dokter spesialis kebidanan dan kandungan yaitu saat pemeriksaan USG untuk menentukan kepastian kehamilan, usia kehamilan, lokasi kehamilan dan penentuan tanggal tafsiran persalinan. Kemudian kunjungan kedua saat usia kehamilan 18 – 20 minggu dengan tujuan untuk melakukan pemeriksaan usg untuk mengevaluasi anatomi janin secara keseluruhan yang disebut dengan morphologic scan. Dan kunjungan yang ketiga saat usia kehamilan 32-34 minggu untuk mengevaluasi pertumbuhan janin.  Dan jika umur kehamilan telah melewati tanggal tafsiran persalinan diperlukan kunjungan ke dokter kebidanan dan kandungan untuk mengevaluasi kesejahteraan janinnya.

Dengan jadwal kunjungan perawatan antenatal berbagi ini diharapkan tidak terjadi kegagalan dalam penapisan/skrining baik kesalahan dalam penentuan usia kehamilan dan ketepatan penentuan tafsiran persalinan, skrining kelainan bawaan, gangguan pertumbuhan janin. Dan pemeriksaan usg menjadi tepat sasaran dan tepat waktu.

Pada pelayanan antenatal berbagi diperlukan peningkatan kompetensi baik bidan maupun dokter umum. Karena pada mereka kunjungan perawatan antenatal lebih banyak diberikan.

Di Australia dan United Kingdom dikenal dengan program diploma obstetri selama 6 bulan bagi dokter umum yang tertarik untuk menekuni pelayanan antenatal berbagi. Program ini mungkin dapat diadopsi di Indonesia (khususnya di Bali) mengingat jumlah penduduk Indonesia yang begitu besar dan menyebar dimana ketersediaan dokter spesialis kebidanan dan kandungan  masih kurang, maka pemberdayaan dokter umum dalam pelayanan kebidanan sangatlah diperlukan. Sehingga tidak lagi terjadi marginalisasi peran dokter umum dalam pelayanan kebidanan terutama pelayanan antenatal.

Pelayanan antenatal berbagi bisa menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan antenatal di puskesmas yang akan berperan penting dalam mencapai keberhasilan program Jamkes Bali Mandara.