Para pasien yang terhormat,

Untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada anda, kami membuka Website ini untuk menyediakan ruang komunikasi yang terstruktur, jelas, tertulis dan dapat diakses kapanpun dan dimanapun.
Semoga pelayanan kami untuk anda semakin baik dan terpadu serta komunikatif.

Hormat

Dr. I N. Hariyasa Sanjaya, SpOG
Spesialis Kebidanan dan Kandungan

Puja Gayatri

Friday, June 26th, 2009 | Posted in Categories : My Family | 13 Views

AyAPuja….adalah anak kedua saya. Lahir 4 Maret 2009, 16.20 wita. Kehadirannya adalah anugrah yg terindah bagi kami semua.Kemarin Ni Luh Made Puja Gayatri yang  dipanggil AyA melaksanakan prosesi ritual tiga bulanan.Semoga AyA tumbuh dan berkembang dengan baik dan selalu ditemani kebahagiaan dan kedamaian.

Mencegah “epidemi seksio sesarea” dengan pengelolaan nyeri melalui persalinan di air

Sunday, April 19th, 2009 | Posted in Categories : Water Birth | 487 Views

Persalinan merupakan sebuah peristiwa penting dalam kehidupan manusia. Dan merupakan satu rangkaian yang menyatu dengan kehamilan. Peristiwa yang merupakan suatu proses dalam melestarikan spesies manusia.Kini berkembang suatu pandangan dan dorongan untuk lebih memanusiakan manusia dalam melalui proses persalinan. Yang dimaksud memanusiakan adalah mencakup tiga aspek yaitu:1. Otonomi pasien. Pasien memiliki hak yang melekat sebagai manusia untuk memilih cara persalinan. Setelah mendapat informasi, edukasi dan konseling yang baik tentang setiap pilihan cara persalianan. 2. Partisipasi keluarga. Dukungan dan peran aktif suami dan keluarga dalam proses persalinan dipandang positif dan harus difasilitasi dalam proses persalinan baik saat di ruang bersalin maupun di kamar operasi.3. Pengelolaan nyeri. Nyeri dalam proses persalinan harus dikelola dengan baik untuk membuat rasa nyaman pada ibu melahirkan sehingga diperoleh manfaat berupa proses persalinan yang berjalan baik, luaran ibu dan bayi yang baik serta tidak terjadinya risiko gangguan psikologis pada masa nifas atau selanjutnya.Pandangan ini kemudian menciptakan inovasi-inovasi dalam pelayanan persalinan yang mendukung pencapaian tujuan humanisasi dalam proses persalinan. Water birth, bersalin di dalam air, merupakan salah satu alternatif persalinan normal yang bertujuan untuk ketiga aspek tersebut di atas. Sejarah persalinan di air sudah sangat lama. Tahun 1700 praktek pengobatan dengan menggunakan air telah ditulis. Kemudian tahun 1723 di London ditulis buku tentang “water cure” yang menjelaskan manfaat air dalam proses persalinan dan kelahiran. Dan Suku Kuhuna di kepulauan Hawai telah sejak ribuan generasi melahirkan di air. Dan kemudian berkembang dengan pelaksanaan water birth di air hangat oleh Frederick Leboter membuat proses adaptasi bayi dari kehidupan di dalam rahim ke luar rahim menjadi lebih baik. Di tahun 1980-1990 tumbuh pesat persalinan di air di Inggris, Kanada dan Negara Eropa lainnya. Di bulan April 2006 The Royal College of Obstetricians and Gynecologists (RCOG) dan The Royal College of midwives dengan tegas mendukung water birth. Suatu Randomised Controlled Trial membandingkan ibu yang menggunakan “water immersion for labour dystocia rather than standard augmention” menunjukkan rendahnya intervensi obstetri dan kebutuhan akan analgesik epidural. Laporan retrospektif mendapatkan terjadi peningkatan kepuasan ibu dan pengurangan nyeri pada persalinan.A Cochrane Systemic review mendukung kesimpulan bahwa berendam dalam air selama persalinan kala I akan dapat mengurangi penggunaan analgesik dan rasa nyeri pada ibu bersalin, tanpa hal merugikan dalam durasi persalinan, luaran bayi dan persalinan operatif.Di Indonesia metode ini masih merupakan suatu yang baru. Walaupun sebenarnya ada beberapa suku di Papua yang melahirkan di air sungai. Untuk di Bali di Desa Nyuh Kuning, Ubud klinik Yayasan Bumi Sehat,yang dikelola oleh bidan Robin Lym sejak tahun 2003 telah melaksanakan metode ini dengan sekitar 400 persalinan WB per tahun. Dan di klinik ini pula Oppie Andaresta pada tanggal 20 Juli 2007 melahirkan anaknya di air. Peristiwa ini yang kemudian menjadi populer oleh karena publikasi media. Di Jakarta tahun 1993 Dr. Liz Adianti Harlizon pernah mencoba metode ini di RSIB Harapan Kita. Dan kemudian sejak 4 Oktober 2006 Dr.T Otamar Samsudin,SpOG dan Dr.Keumala Pringgadini,SpA melaksanakan metode ini di SanMarie Family Healthcare Jakarta. Di Denpasar Dr. Hariyasa Sanjaya,SpOG sejak Oktober 2007 di RSB Harapan Bunda telah melayani 56 kasus persalinan di air.Saat ini adanya fakta meningkatnya angka bedah cesar di seluruh dunia telah menyebabkan banyak orang khawatir dengan terjadinya “endemi bedah cesar” yang memicu munculnya sentimen bahwa para wanita telah direnggutkan, diingkari dari pengalaman bersalin yang sejati dan alami. Mary Gabay dan Sidney Wolfe,MD dalam Unnecessary Cesarean Sections: Curing a National Epidemic, yang diterbitkan oleh Public Citizen’s Health Research Group (1994) menulis:”Tak disadari bahwa setiap hari bedah cesar yang tak perlu dilakukan pada ribuan wanita, menyia-nyiakan jutaan dolar dana pelayanan kesehatan yang berharga sementara hampir 40 juta orang Amerika kekurangan asuransi kesehatan dasar”.Ketakutan dan mitos yang negatif dan pesimistis telah mempengaruhi munculnya permintaan bedah cesar yang tidak perlu karena takut sakit dan takut gagal dalam upaya persalinan normal dan munculnya sikap yang ingin mendapat sesuatu secara instan dan tidak menyukai proses telah merubah pandangan para wanita seolah-olah bedah cesar lebih aman dibandingkan persalinan normal. Pandangan ini sungguh keliru dan semestinya diluruskan.Sebenarnya wanita ingin melalui proses persalinan dengan lebih nyaman. Dan keinginan ini menumbuhkan permintaan akan pelayanan yang menyediakan unit persalinan di air. Kenyataan ini harus disikapi dengan positif oleh para penyedian pelayanan persalinan.

Jangan jadikan persalinan hanya sekedar peristiwa biologis dan medis semata.

Sunday, April 19th, 2009 | Posted in Categories : Water Birth | 104 Views

Caroline M de Costa dan Stephen Robson dalam artikelnya berjudul “Throwing out the baby with the spa water? Memaparkan bahwa  sebelum abad ke 20, proses persalinan merupakan peristiwa sosial yang dilaksanakan di rumah. Sebagai sebuah tempat melahirkan, rumah sakit saat itu hanyalah menjadi tempat terakhir setelah semua usaha mengalami kegagalan. Sepanjang abad ke 20, terjadi peningkatan peranan pekerja medis dalam kehamilan dan persalinan yang mengakibatkan pergeseran perawatan menjadi ke rumah sakit bagi sebagian besar perempuan.

Saat ini intervensi-intervensi obstetri, terutama seksio sesarea meningkat sangat tajam (di Australia 1 dari 4 kelahiran melalui seksio sesarea). Hal ini menunjukkan suatu bukti intervensi yang tidak perlu dimana para ahli kebidanan harusnya mempertanggungjawabkannya.

Pendapat ini didukung oleh banyak penulis dengan sebuah pernyataan:”Westernisasi, medikalisasi, perawatan ibu bertekhnologi tinggi di bawah kendali obstetri sering kali medehumanisasi dan sering mengakibatkan dilakukannya intervensi obstetri yang tidak perlu, mahal, berbahaya, dan invasive.

Reaksi terhadap persepsi medikalisasi memunculkan harapan yang sangat bisa dipahami pada perempuan, dan keluarga mereka, para bidan dan juga banyak dokter untuk menciptakan lingkungan yang lebih alami pada persalinan tanpa komplikasi.  Meningkatnya pemahaman ini memberikan tempat bagi kualitas pengalaman perempuan saat melahirkan.

Caroline M de Costa dan Stephen Robson mempertanyakan apakah medikalisasi dalam persalinan sudah bertindak terlalu berlebihan.  Pandangan yang penuh kekhawatiran ini akan terus muncul dan tumbuh semakin kuat.

 Dahulu persalinan merupakan peristiwa domestik yang penuh relasi dan interaksi sosial. Dimana  para leluhur memaknai peristiwa persalinan dalam ranah dunia-akhirat (sekala-niskala) dan nilai-nilai kultural dan spiritualitas yang sangat kental. Namun kini persalinan telah menjadi hanya sekedar urusan biologis yang sekuler, komersiil dan medikalisasi semata.

 Akankah kita membiarkan hal ini terus terjadi? Semoga tidak.

 

Kita kini lebih suka yang instan

Sunday, February 8th, 2009 | Posted in Categories : Renungan | 267 Views

reincarnation.jpg

Tadi pagi, saya membantu seorang ibu hamil melahirkan bayinya dengan seksio sesarea walau secara medis belum ada indikasi untuk melakukan operasi. Keinginan ibu hamil ini semata-mata karena dia takut nyeri dan takut gagal melahirkan normal. Ditambah oleh karena riwayat kehamilan sebelumnya dengan keguguran. Saya coba jelaskan dengan sebaik mungkin dan memotivasi agar dia mau dan berani memilih persalinan normal. Namun ibu tersebut tetap pada pendiriaannya.Kini banyak orang memiliki keyakinan sepertinya melahirkan dengan seksio sesarea lebih aman dari pada melahirkan normal. Dan menganggap lebih nyaman dan cepat.Pandangan yg keliru ini telah menjadi populer dan jamak.

Read Details »

Childbirth not just a medical entity

Sunday, February 1st, 2009 | Posted in Categories : Renungan | 222 Views

balinese-baby-2.jpg Elizabeth Sinclair, seorang journalist menulis sebuah artikel di http://www.thejakartaglobe.com/life-times/article/7386.html dengan judul “Center of Gentle Birthing”. Dalam tulisannya dia mengutip pendapat saya tentang pregnancy and childbirth.”Hariyasa said that he sees the modern global standards set by Western-dominated medicine for pregnancy and childbirth, without consideration of historical, cultural or spiritual diversity, as being a form of “scientific and medical imperialism.”Saya menyadari sebuah perubahan yg sangat luar biasa, mengapa kini kehamilan dan proses persalinan telah dibajak menjadi suatu urusan medical entity? Padahal untuk orang Timur kehamilan dan persalinan adalah proses sosial, budaya dengan nilai-nilai spiritualisme. Kini hampir 100 persen orang modern melahirkan bayinya tidak lagi di rumah namun di rumah sakit. Persalinan kini berlabel “medical business” bukan lagi sebuah peristiwa domestik dalam kehidupan sebuah keluarga. Saya terkesima bagaimana nenek saya melahirkan 13 orang anaknya di rumah tua kakek saya, di Desa Tajun, yang kala itu beriklim dingin dan tradisional. Dan ke-13 anak-anaknya lahir dengan sehat. Mengapa kini persalinan telah dijauhkan dari rumahnya, lingkungan keluarganya, dan tempat yg lebih nyaman dekat dengan keluarganya. Mengapa untuk melahirkan hampir 100 persen orang harus pergi meninggalkan rumah tempat tinggalnya ?Apakah melahirkan di rumah tidak aman lagi? Mengapa kita tidak mau hidup dan berbahagia dengan cara kita dan cara yang telah diwariskan oleh para leluhur. Semoga kita tidak menjadi jiplakan, peniru orang Barat, dimana mereka juga memiliki kebingungan dalam menjalani kehidupan. Mari kita bawa kembali nilai budaya, spiritualisme dalam peristiwa kehamilan dan persalinan yang bukan hanya urusan medis semata. Salam.