Para pasien yang terhormat,

Untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada anda, kami membuka Website ini untuk menyediakan ruang komunikasi yang terstruktur, jelas, tertulis dan dapat diakses kapanpun dan dimanapun.
Semoga pelayanan kami untuk anda semakin baik dan terpadu serta komunikatif.

Hormat

Dr. I N. Hariyasa Sanjaya, SpOG
Spesialis Kebidanan dan Kandungan

Perawatan Antenatal Berbagi

Sunday, September 20th, 2009 | Posted in Categories : Kesehatan | 757 Views

bu-mil.jpgbu-mil.jpg

Sebuah berita menarik  berjudul “Kesehatan Gratis di 114 Puskesmas” tentang Jamkes Bali Mandara di Koran Mingguan TOKOH 6-12 September 2009 merupakan sebuah berita tentang program Pemerintah Propinsi Bali dalam upaya meningkatkan tingkat indeks pembangunan masyarakat terutama meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Bali.  Langkah strategis dan  penting ini  memiliki makna antara lain Pemerintah Propinsi Bali menekankan kembali  pentingnya kesehatan masyarakat sebagai faktor penting yang mendasar dari kesejahteraan masyarakat serta akan tercipta suatu sistem pembiayaan dalam pelayanan kesehatan yang merealisasi semangat untuk mewujudkan keadilan sosial bagi masyarakat.

Dan konsekuensi dari program Pemerintah Propinsi Bali ini menuntut peningkatan kualitas pelayanan puskesmas yang akan terlibat di dalamnya. Salah satu pelayanan kesehatan di puskesmas yang menjadi prioritas adalah pelayanan kesehatan ibu dan anak. Kegiatan rutin dalam pelayanan ini adalah perawatan antenatal bagi ibu hamil.  Sangat erat kaitannya hubungan antara kualitas pelayanan antenatal dalam meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang diukur dengan angka kematian ibu hamil dan melahirkan dan angka kematian bayi baru lahir.

 

Perawatan antenatal dilaksanakan untuk melakukan penapisan terhadap kondisi kesehatan ibu hamil dimana faktor sosio-ekonomi sangat berpengaruh terhadap kualitas luaran kehamilan. Perawatan antenatal juga dapat digunakan untuk mengetahui efektifitas pelayanan, serta memberikan pendidikan bagi para ibu hamil tentang bagaimana merencanakan persalinan yang aman, dan memberikan pengetahuan tentang keadaan-keadaan  darurat selama kehamilan serta mengetahui bagaimana cara mengatasi masalah-masalah tersebut.

 

Program perawatan antenatal  di Indonesia masih menghadapi berbagai masalah baik dalam cakupan serta kualitas. Soal koordinasi dan integrasi serta team work dalam pelayanan antenatal  masih menjadi masalah yang utama. Berkurangnya peran dokter umum (dokter pemberi pelayanan primer) dalam perawatan antenatal  merupakan sesuatu yang mengkhawatirkan. Koordinasi serta sinergisme yang kurang kuat antara pemberi pelayanan perawatan antenatal yaitu bidan dan dokter spesialis kebidanan dan kandungan. Tidak standarnya pedoman atau acuan dalam pelaksanaan perawatan antenatal juga merupakan masalah penting lainnya.

Pada tulisan ini penulis ingin mengutip suatu model perawatan antenatal berbagi  di tempat lain. Kata ‘berbagi’ sangat indah terbaca dan mengandung makna kebersamaan dalam suatu tanggung jawab untuk memberikan pelayanan bagi ibu hamil. Dalam pelayanan antenatal berbagi ini peran dokter umum, bidan dan dokter spesialis kebidanan dan kandungan diatur secara jelas dengan jadwal, tujuan pemeriksaan dan hal-hal penting yang harus disampaikan kepada ibu hamil.

Perawatan antenatal berbagi (PAB) ditujukan untuk ibu hamil yang kesehatannya baik dengan kehamilan tunggal tanpa komplikasi (kategori A, kehamilan risiko rendah).

Sedangkan untuk kategori B (kehamilan dengan risiko sedang) dan C (kehamilan dengan risiko tinggi) memerlukan perawatan khusus dari dokter spesialis kebidanan dan kandungan atau spesialis yang lain.

Ketegori A faktor-faktor risiko rendah, dapat dikelola dalam perawatan berbagi oleh dokter umum.

Sedangkan kriteria kehamilan dengan kategori B (dengan faktor-faktor risiko sedang) contohnya: kehamilan kembar, kadar Hemoglobin ibu < 10 gram/dl, usia ibu kurang dari 15 tahun  dan lebih dari 35 tahun, adanya infeksi aktif seperti: syphilis, positif HIV, tuberculosis, dan positif virus Hepatitis B, riwayat persalinan sebelumnya dengan seksio sesarea

Kehamilan dengan kategori C (risiko tinggi)  yaitu dengan kelainan medis seperti: penyakit ginjal, penyakit jantung berat, asthma berat, kelainan endokrin,  penyakit hati,kelainan darah kelainan saraf seperti epilepsi dan kelainan kelenjar thyroid berat. Serta hipertensi dalam kehamilan termasuk pre-eclampsi dan penyakit infeksi seperti HIV.

 

 

Jadwal kunjungan

Jadwal kunjungan untuk perawatan antenatal berbagi telah ditentukan saat pertama kali kunjungan ibu hamil. Jadwal kunjungan ini dibagi antara dokter umum dan dokter spesialis. Dapat pula berbagi antara bidan, dokter umum dan dokter obgyn. Setidaknya ada 3 kali jadwal untuk dokter spesialis kebidanan dan kandungan yaitu saat pemeriksaan USG untuk menentukan kepastian kehamilan, usia kehamilan, lokasi kehamilan dan penentuan tanggal tafsiran persalinan. Kemudian kunjungan kedua saat usia kehamilan 18 – 20 minggu dengan tujuan untuk melakukan pemeriksaan usg untuk mengevaluasi anatomi janin secara keseluruhan yang disebut dengan morphologic scan. Dan kunjungan yang ketiga saat usia kehamilan 32-34 minggu untuk mengevaluasi pertumbuhan janin.  Dan jika umur kehamilan telah melewati tanggal tafsiran persalinan diperlukan kunjungan ke dokter kebidanan dan kandungan untuk mengevaluasi kesejahteraan janinnya.

Dengan jadwal kunjungan perawatan antenatal berbagi ini diharapkan tidak terjadi kegagalan dalam penapisan/skrining baik kesalahan dalam penentuan usia kehamilan dan ketepatan penentuan tafsiran persalinan, skrining kelainan bawaan, gangguan pertumbuhan janin. Dan pemeriksaan usg menjadi tepat sasaran dan tepat waktu.

Pada pelayanan antenatal berbagi diperlukan peningkatan kompetensi baik bidan maupun dokter umum. Karena pada mereka kunjungan perawatan antenatal lebih banyak diberikan.

Di Australia dan United Kingdom dikenal dengan program diploma obstetri selama 6 bulan bagi dokter umum yang tertarik untuk menekuni pelayanan antenatal berbagi. Program ini mungkin dapat diadopsi di Indonesia (khususnya di Bali) mengingat jumlah penduduk Indonesia yang begitu besar dan menyebar dimana ketersediaan dokter spesialis kebidanan dan kandungan  masih kurang, maka pemberdayaan dokter umum dalam pelayanan kebidanan sangatlah diperlukan. Sehingga tidak lagi terjadi marginalisasi peran dokter umum dalam pelayanan kebidanan terutama pelayanan antenatal.

Pelayanan antenatal berbagi bisa menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan antenatal di puskesmas yang akan berperan penting dalam mencapai keberhasilan program Jamkes Bali Mandara. 

Puja Gayatri

Friday, June 26th, 2009 | Posted in Categories : My Family | 362 Views

AyAPuja….adalah anak kedua saya. Lahir 4 Maret 2009, 16.20 wita. Kehadirannya adalah anugrah yg terindah bagi kami semua.Kemarin Ni Luh Made Puja Gayatri yang  dipanggil AyA melaksanakan prosesi ritual tiga bulanan.Semoga AyA tumbuh dan berkembang dengan baik dan selalu ditemani kebahagiaan dan kedamaian.

Mencegah “epidemi seksio sesarea” dengan pengelolaan nyeri melalui persalinan di air

Sunday, April 19th, 2009 | Posted in Categories : Water Birth | 1,474 Views

Persalinan merupakan sebuah peristiwa penting dalam kehidupan manusia. Dan merupakan satu rangkaian yang menyatu dengan kehamilan. Peristiwa yang merupakan suatu proses dalam melestarikan spesies manusia.Kini berkembang suatu pandangan dan dorongan untuk lebih memanusiakan manusia dalam melalui proses persalinan. Yang dimaksud memanusiakan adalah mencakup tiga aspek yaitu:1. Otonomi pasien. Pasien memiliki hak yang melekat sebagai manusia untuk memilih cara persalinan. Setelah mendapat informasi, edukasi dan konseling yang baik tentang setiap pilihan cara persalianan. 2. Partisipasi keluarga. Dukungan dan peran aktif suami dan keluarga dalam proses persalinan dipandang positif dan harus difasilitasi dalam proses persalinan baik saat di ruang bersalin maupun di kamar operasi.3. Pengelolaan nyeri. Nyeri dalam proses persalinan harus dikelola dengan baik untuk membuat rasa nyaman pada ibu melahirkan sehingga diperoleh manfaat berupa proses persalinan yang berjalan baik, luaran ibu dan bayi yang baik serta tidak terjadinya risiko gangguan psikologis pada masa nifas atau selanjutnya.Pandangan ini kemudian menciptakan inovasi-inovasi dalam pelayanan persalinan yang mendukung pencapaian tujuan humanisasi dalam proses persalinan. Water birth, bersalin di dalam air, merupakan salah satu alternatif persalinan normal yang bertujuan untuk ketiga aspek tersebut di atas. Sejarah persalinan di air sudah sangat lama. Tahun 1700 praktek pengobatan dengan menggunakan air telah ditulis. Kemudian tahun 1723 di London ditulis buku tentang “water cure” yang menjelaskan manfaat air dalam proses persalinan dan kelahiran. Dan Suku Kuhuna di kepulauan Hawai telah sejak ribuan generasi melahirkan di air. Dan kemudian berkembang dengan pelaksanaan water birth di air hangat oleh Frederick Leboter membuat proses adaptasi bayi dari kehidupan di dalam rahim ke luar rahim menjadi lebih baik. Di tahun 1980-1990 tumbuh pesat persalinan di air di Inggris, Kanada dan Negara Eropa lainnya. Di bulan April 2006 The Royal College of Obstetricians and Gynecologists (RCOG) dan The Royal College of midwives dengan tegas mendukung water birth. Suatu Randomised Controlled Trial membandingkan ibu yang menggunakan “water immersion for labour dystocia rather than standard augmention” menunjukkan rendahnya intervensi obstetri dan kebutuhan akan analgesik epidural. Laporan retrospektif mendapatkan terjadi peningkatan kepuasan ibu dan pengurangan nyeri pada persalinan.A Cochrane Systemic review mendukung kesimpulan bahwa berendam dalam air selama persalinan kala I akan dapat mengurangi penggunaan analgesik dan rasa nyeri pada ibu bersalin, tanpa hal merugikan dalam durasi persalinan, luaran bayi dan persalinan operatif.Di Indonesia metode ini masih merupakan suatu yang baru. Walaupun sebenarnya ada beberapa suku di Papua yang melahirkan di air sungai. Untuk di Bali di Desa Nyuh Kuning, Ubud klinik Yayasan Bumi Sehat,yang dikelola oleh bidan Robin Lym sejak tahun 2003 telah melaksanakan metode ini dengan sekitar 400 persalinan WB per tahun. Dan di klinik ini pula Oppie Andaresta pada tanggal 20 Juli 2007 melahirkan anaknya di air. Peristiwa ini yang kemudian menjadi populer oleh karena publikasi media. Di Jakarta tahun 1993 Dr. Liz Adianti Harlizon pernah mencoba metode ini di RSIB Harapan Kita. Dan kemudian sejak 4 Oktober 2006 Dr.T Otamar Samsudin,SpOG dan Dr.Keumala Pringgadini,SpA melaksanakan metode ini di SanMarie Family Healthcare Jakarta. Di Denpasar Dr. Hariyasa Sanjaya,SpOG sejak Oktober 2007 di RSB Harapan Bunda telah melayani 56 kasus persalinan di air.Saat ini adanya fakta meningkatnya angka bedah cesar di seluruh dunia telah menyebabkan banyak orang khawatir dengan terjadinya “endemi bedah cesar” yang memicu munculnya sentimen bahwa para wanita telah direnggutkan, diingkari dari pengalaman bersalin yang sejati dan alami. Mary Gabay dan Sidney Wolfe,MD dalam Unnecessary Cesarean Sections: Curing a National Epidemic, yang diterbitkan oleh Public Citizen’s Health Research Group (1994) menulis:”Tak disadari bahwa setiap hari bedah cesar yang tak perlu dilakukan pada ribuan wanita, menyia-nyiakan jutaan dolar dana pelayanan kesehatan yang berharga sementara hampir 40 juta orang Amerika kekurangan asuransi kesehatan dasar”.Ketakutan dan mitos yang negatif dan pesimistis telah mempengaruhi munculnya permintaan bedah cesar yang tidak perlu karena takut sakit dan takut gagal dalam upaya persalinan normal dan munculnya sikap yang ingin mendapat sesuatu secara instan dan tidak menyukai proses telah merubah pandangan para wanita seolah-olah bedah cesar lebih aman dibandingkan persalinan normal. Pandangan ini sungguh keliru dan semestinya diluruskan.Sebenarnya wanita ingin melalui proses persalinan dengan lebih nyaman. Dan keinginan ini menumbuhkan permintaan akan pelayanan yang menyediakan unit persalinan di air. Kenyataan ini harus disikapi dengan positif oleh para penyedian pelayanan persalinan.

Jangan jadikan persalinan hanya sekedar peristiwa biologis dan medis semata.

Sunday, April 19th, 2009 | Posted in Categories : Water Birth | 490 Views

Caroline M de Costa dan Stephen Robson dalam artikelnya berjudul “Throwing out the baby with the spa water? Memaparkan bahwa  sebelum abad ke 20, proses persalinan merupakan peristiwa sosial yang dilaksanakan di rumah. Sebagai sebuah tempat melahirkan, rumah sakit saat itu hanyalah menjadi tempat terakhir setelah semua usaha mengalami kegagalan. Sepanjang abad ke 20, terjadi peningkatan peranan pekerja medis dalam kehamilan dan persalinan yang mengakibatkan pergeseran perawatan menjadi ke rumah sakit bagi sebagian besar perempuan.

Saat ini intervensi-intervensi obstetri, terutama seksio sesarea meningkat sangat tajam (di Australia 1 dari 4 kelahiran melalui seksio sesarea). Hal ini menunjukkan suatu bukti intervensi yang tidak perlu dimana para ahli kebidanan harusnya mempertanggungjawabkannya.

Pendapat ini didukung oleh banyak penulis dengan sebuah pernyataan:”Westernisasi, medikalisasi, perawatan ibu bertekhnologi tinggi di bawah kendali obstetri sering kali medehumanisasi dan sering mengakibatkan dilakukannya intervensi obstetri yang tidak perlu, mahal, berbahaya, dan invasive.

Reaksi terhadap persepsi medikalisasi memunculkan harapan yang sangat bisa dipahami pada perempuan, dan keluarga mereka, para bidan dan juga banyak dokter untuk menciptakan lingkungan yang lebih alami pada persalinan tanpa komplikasi.  Meningkatnya pemahaman ini memberikan tempat bagi kualitas pengalaman perempuan saat melahirkan.

Caroline M de Costa dan Stephen Robson mempertanyakan apakah medikalisasi dalam persalinan sudah bertindak terlalu berlebihan.  Pandangan yang penuh kekhawatiran ini akan terus muncul dan tumbuh semakin kuat.

 Dahulu persalinan merupakan peristiwa domestik yang penuh relasi dan interaksi sosial. Dimana  para leluhur memaknai peristiwa persalinan dalam ranah dunia-akhirat (sekala-niskala) dan nilai-nilai kultural dan spiritualitas yang sangat kental. Namun kini persalinan telah menjadi hanya sekedar urusan biologis yang sekuler, komersiil dan medikalisasi semata.

 Akankah kita membiarkan hal ini terus terjadi? Semoga tidak.

 

Kita kini lebih suka yang instan

Sunday, February 8th, 2009 | Posted in Categories : Renungan | 632 Views

reincarnation.jpg

Tadi pagi, saya membantu seorang ibu hamil melahirkan bayinya dengan seksio sesarea walau secara medis belum ada indikasi untuk melakukan operasi. Keinginan ibu hamil ini semata-mata karena dia takut nyeri dan takut gagal melahirkan normal. Ditambah oleh karena riwayat kehamilan sebelumnya dengan keguguran. Saya coba jelaskan dengan sebaik mungkin dan memotivasi agar dia mau dan berani memilih persalinan normal. Namun ibu tersebut tetap pada pendiriaannya.Kini banyak orang memiliki keyakinan sepertinya melahirkan dengan seksio sesarea lebih aman dari pada melahirkan normal. Dan menganggap lebih nyaman dan cepat.Pandangan yg keliru ini telah menjadi populer dan jamak.

Read Details »